KAMPAR — Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pelaksanaan kegiatan perpisahan sekolah yang kerap dinilai berlebihan dan membebani wali murid, justru memilih jalan berbeda. Sekolah yang berada di wilayah Kampar Kiri Hulu itu menggelar acara perpisahan siswa secara sederhana, tertib, dan penuh nilai edukatif.
Kebijakan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, , yang menegaskan bahwa dunia pendidikan sejatinya tidak boleh kehilangan orientasi utamanya: membentuk karakter, kedisiplinan, dan kepekaan sosial peserta didik.
Pelaksanaan perpisahan itu sekaligus menjadi bentuk kepatuhan terhadap edaran Plt Gubernur Riau melalui Dinas Pendidikan Provinsi Riau yang mengimbau agar sekolah tidak mengadakan acara pelepasan siswa secara mewah maupun berorientasi seremonial berlebihan.
Dalam suasana yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, para siswa, guru, serta wali murid tampak mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias. Tidak ada kemegahan panggung ataupun pemborosan biaya. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir suasana emosional yang lebih jujur dan bermakna.
M. Hariri Mustofa menilai bahwa pendidikan modern harus mampu menghadirkan keseimbangan antara pencapaian akademik dengan pembentukan etika sosial. Menurutnya, sekolah perlu menjadi contoh dalam menanamkan budaya hidup proporsional kepada generasi muda.
“Perpisahan bukan tentang kemewahan acara, melainkan tentang penghormatan terhadap proses pendidikan yang telah dilalui siswa. Nilai yang paling penting adalah rasa syukur, penghargaan kepada guru dan orang tua, serta kesiapan siswa menghadapi masa depan,” ujarnya.
Pandangan tersebut mendapat respons positif dari wali murid. Banyak orang tua mengaku merasa terbantu dengan konsep kegiatan yang sederhana namun tetap bermartabat. Mereka menilai langkah sekolah mencerminkan kepedulian terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Secara substantif, pendekatan yang dilakukan SMAN 1 Kampar Kiri Hulu menunjukkan bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk membangun budaya pendidikan yang sehat, rasional, dan tidak terjebak pada simbolisme semata. Fenomena kegiatan perpisahan yang cenderung kompetitif dan konsumtif dalam beberapa tahun terakhir memang kerap memunculkan kritik dari berbagai kalangan pendidikan.
Karena itu, keputusan sekolah untuk mengedepankan kesederhanaan dinilai bukan sekadar bentuk kepatuhan administratif terhadap kebijakan pemerintah, melainkan juga refleksi dari kesadaran pedagogis yang matang.
Di akhir kegiatan, suasana haru tak terelakkan ketika para siswa menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru dan orang tua. Momen tersebut menjadi penegasan bahwa nilai emosional dalam pendidikan tidak pernah ditentukan oleh kemewahan acara, melainkan oleh ketulusan hubungan antara sekolah, siswa, dan keluarga.
Melalui momentum itu, SMAN 1 Kampar Kiri Hulu memperlihatkan bahwa pendidikan yang bermutu bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga kemampuan membangun karakter generasi yang sederhana, beretika, dan memiliki sensitivitas sosial di tengah perubahan zaman.
#sekolah